Beranda / Arsip Berita / INSPIRASI / Kerjabilitas, Kerja Mulia Bantu Penyandang Disabilitas Meraih Impian
shafiyyatul.com

Kerjabilitas, Kerja Mulia Bantu Penyandang Disabilitas Meraih Impian

Mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi para penyandang disabilitas. Tak dapat dipungkiri, di Indonesia para penyandang disabilitas masih belum mendapat kesempatan yang besar untuk memperoleh pekerjaan. Jangankan pekerjaan, informasi lowongan pun sangat sulit mereka dapatkan. Melihat kondisi tersebut, Muhammad Rubby Emir Fahriza dan rekannya, Tety Nurhayati Sianipar tergerak mencari sebuah solusi.

Pada tahun 2014 Rubby dan Tety lantas mempunyai ide membuat sebuah sistem informasi khusus agar para penyandang disabilitas bisa mendapatkan informasi lowongan pekerjaan. Selain itu juga menjembatani antara para disabilitas dan penyedia kerja. Sebab salah satu masalah terbesar di Indonesia untuk disabilitas mendapat pekerjaan adalah belum adanya wadah informasi lowongan khusus.

Ide tersebut lalu diikutkan pada sebuah kompetisi ide kreatif. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Yayasan Wikimedia ini mendorong munculnya ide-ide kreatif untuk memecahkan masalah sosial dengan menggunakan ponsel. Usai lolos seleksi, Rubby lantas melakukan forum diskusi dengan komunitas disabilitas di tiga kota yakni Surabaya, Malang, dan Yogyakarta.

Forum diskusi ini untuk menambah masukan terkait layanan yang akan dibuat. “Kita mendapat banyak masukan, baik fiturnya, konten serta aksesibilitasnya. Enam bulan Website Application (Web Apps) dikerjakan, pada Maret 2015 kita launching Kerjabilitas.com,” ucapnya.

Alumnus Universitas Negeri Surabaya ini menjelaskan, di Website Application Kerjabilitas ada tiga fitur unggulan. Pertama job list (daftar lowongan pekerjaan). Di Job list, pencari kerja bisa melihat posisi yang dibutuhkan, gajinya dan lokasi kantornya. Daftar lowongan pekerjanya meliputi semua bidang, baik dari perusahaan, instansi, organisasi, maupun UMKM.

Fitur kedua, adalah profil. Pencari kerja dapat mengisi data diri dan skill yang dimiliki sehingga penyedia kerja baik instansi, organisasi, maupun UMKM bisa melihat dan ketika tertarik bisa langsung menghubungi. Ketiga, ada fitur terhubung sehingga para pencari kerja bisa saling invite profil dan berkomunikasi lewat chatting. Selain itu, pencari kerja juga bisa berkomunikasi dengan penyedia kerja.

Alumnus Universitas Negeri Surabaya ini mengungkapkan, dari Tahun 2015 hingga 2016 penyandang disabilitas pencari kerja yang mendaftar sudah mencapai 4.000 orang lebih. Adapun mitra penyedia kerja yang telah masuk membuka lowongan ada sekitar 500-an perusahaan.

“Sebanyak 4.000 orang itu seluruh Indonesia, tetapi kebanyakan Jawa, kedua Medan dan Makasar. Di pulau Jawa, nomer satu Jakarta, Jawa barat, Jawa timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta,” kata Rubby.

Dijelaskanya, tim kerjabilitas tidak hanya menyediakan layanan saja namun juga memonitor siapa-siapa saja pencari kerja yang diterima. Selain itu, melakukan wawancara kepada pencari kerja yang sudah diterima, terkait kiat-kiatnya hingga bisa lolos.

“Setiap lowongan kita monitor, kalau ada yang diterima kita interview lagi, bagaimana prosesnya, tips-tipsnya apa. Agar bisa sharing, karena tujuan ini semua adalah menempatkan teman-teman (Para Disabilitas ) sebanyak mungkin,” tandasnya.

Pemahaman rendah, penyedia pekerjaan bagi disabilitas minim

Muhammad Rubby Emir Fahriza mengungkapkan berdasarkan data, dari 4.000 orang pencari kerja, ada 37 yang telah diterima dan ditempatkan. Menurutnya, belum banyaknya serapan tenaga kerja lebih disebabkan pemahaman instansi atau perusahaan tentang disabilitas sampai saat ini masih rendah.

Akibatnya, sedikit sekali perusahaan yang menyediakan lapangan kerja bagi para disabilitas. Alasan yang sering muncul adalah mengenai aksesibilitas di kantor. Banyak perusahaan yang berfikir memperkerjakan disabilitas menambah biaya, misalnya membetulkan kamar mandi agar kursi roda bisa masuk dan layak untuk penyandang disabilitas.

“Penyesuaiannya tidak harus 100 persen, ada yang bisa akomodatif saja, yang penting cukup. Misalnya kantornya lantai tiga gak ada lift, tinggal pindah saja ke lantai satu,” tegasnya.

Diakuinya, UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas sedikit banyak telah membantu untuk mendorong perusahaan membuka lebih luas lapangan pekerjaan. Setidaknya sekarang sudah banyak instansi, seperti perbankan, BUMN dan perusahaan multinasional mulai berbondong-bondong menyediakan pekerjaan bagi disabilitas.

Para disabilitas adalah survival sejati dan penyelesai masalah

Tim Kerjabilitas tidak hanya menjadi jembatan para pencari kerja dengan penyedia kerja tetapi juga melakukan edukasi serta pemahaman kepada penyedia kerja bahwa para disabilitas juga mempunyai keunikan tersendiri.

“Permasalahan utamanya soal paradigma. Jadi kita terus berusaha memberikan pengetahuan dan pendekatan agar penyedia kerja mau membuka untuk tenaga disabilitas,” ucapnya. Diungkapkannya, tidak semua orang atau penyedia kerja mengetahui jika sebenarnya penyandang disabilitas memiliki etos kerja yang tinggi. Kenapa? karena kesempatan mereka mendapat pekerjaan kecil sehingga ketika sudah mendapatkan pekerjaan, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Selain itu, para disabilitas juga sosok penyelesai masalah. Sebab, sejak kecil mereka sudah terbiasa menghadapi berbagai rintangan dan masalah. “Mau jalan susah, komunikasi susah, melihat susah. Hidup sampai sekarang itu bukti mereka survival sejati, jadi jika ada masalah di kantor serahkan ke mereka maka akan ada solusi yang kreatif,” ucapnya.

Ke depan, Rubby akan terus berupaya menambah jumlah penyedia kerja dan pengembangan web apps tersebut. Dengan demikian, Kerjabilitas.com semakin mudah diakses dan mampu membantu sebanyak-banyaknya disabilitas mendapatkan pekerjaan.

Sumber : Kompas.com

Baca Juga

shafiyyatul.com

Pendidikan yang Menumbuhkan Oleh Anies Baswedan

Berikut ini adalah catatan ringkas dari sambutan Bapak Anies Rasyid Baswedan, mantan menteri pendidikan yang …