Beranda / Featured / Tiga Bingkai Cerita dari Tiga Negara
shafiyyatul.com

Tiga Bingkai Cerita dari Tiga Negara

Kepulangan tiga orang siswa yang menjadi kebanggaan SMA Shafiyyatul Amaliyyah dari tiga negara yang berbeda, membawa pengalaman yang sangat berharga bagi siswa-siswi lainnya. Dengan sangat antusias para siswa mendengarkan cerita pengalaman bagaimana hidup dan belajar selama satu tahun  di negara asing. Imam Akbar, Ahmad Rayhan Yunus Rangkuti, dan Falaah Syahputra Siregar telah mengikuti program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh AFS (American Field Service ) dari Agustus tahun 2016 sampai  Juni tahun 2017.

Imam Akbar menceritakan pengalamannya selama setahun ditempatkan  di Amerika, “Saya mendapat banyak sekali pengalaman berharga. Saya telah pergi ke banyak tempat yang ada di Amerika, seperti Times Square, Statue of Liberty, White House, National Monument, dan tempat-tempat terkenal lainnya yang biasanya saya hanya bisa lihat di televisi. Di sana saya juga mendapat pengalaman baru dan pelajaran baru, dari orang-orang baru yang ada di sana. Seperti bahasa, budaya dan  sifat masyarakat Amerika yang sangat individualis. Mencari teman tidaklah semudah di Indonesia. Dalam bidang pendidikan di Amerika, pemerintah menggunakan sistem yang sangat mendukung minat dan bakat para siswanya, mereka dibebaskan untuk memilih pelajaran yang mereka inginkan sesuai dengan masa depan dan cita-cita yang mereka harapkan. Fasilitas pendukung belajar di sana sangat lengkap dan sangat menunjang dalam pembelajarann. Saya tinggal dengan orang tua angkat yang menganut agama Kristen Presbyterian, yang memiliki tiga orang anak. Dari mereka saya belajar banyak perbedaan kebiasaan dan budaya yang tidak saya dapati di Indonesia. Salah satu yang sederhana seperti cara berpakaian. Dari segi transportasi Amerika jauh lebih modern daripada Indonesia. Namun masyarakat Amerika lebih suka berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum. Dalam segi makanan, Makanan halal sangatlah susah saya dapatkan di sana karena agama Islam merupakan agama minoritas, bahkan suara adzan pun tidak terdengar. Program AFS yang saya jalani memberikan saya banyak pengalaman. Dari sana saya belajar untuk bangga menjadi anak Indonesia dan lebih mencintai budaya negara saya sendiri. Dari sana saya juga belajar untuk lebih berani memahami perbedaan dan belajar untuk beradaptasi disaat posisi saya menjadi minoritas di negara asing.

Ahmad Rayhan Yunus Rangkuti juga berbagi pengalamannya selama berada di Spanyol. “ Saya tinggal bersama orang tua angkat saya yang berasal dari Spanyol yang menganut agama Kristen Katolik, mereka sangat baik dan perhatian. Banyak sekali pengalaman yang saya dapat selama setahun berada di sana. Bila dilihat dari segi budayanya sangatlah bertentangan dengan budaya Indonesia karena masyarakat terlalu bebas, maka saya pun harus berhati-hati untuk memilih budaya mana yang patut diikuti. Dari segi pendidikan di Spanyol jauh lebih maju di bandingkan Indonesia. Kami belajar dari hari Senin sampai Jumat. Dari pukul 08.00 sampai 14.00, mata pelajaran yang dipelajari sesuai dengan pilihan minat dan bakat dari para siswanya. Pemerataan kualitas sekolah di setiap daerah di sana disamaratakan oleh pemerintahnya. Siswa bersekolah tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bila musim panas mereka libur sampai tiga bulan lamanya. Namun di sana tidak ada pelajaran agama. Bahkan juga dilihat dari segi transporasi sangat modern kita sangat diberikan kemudahan untuk menggunakan layanan transportasi seperti bus yang kita bisa menggunakan aplikasi handphone untuk tahu kapan bus tiba. Di spanyol tidak sulit untuk mencari nasi dan makanan halal juga tidak terlalu sulit di dapat. Makanan yang terkenal yaitu la paella yaitu nasi yang biasanya disajikan dengan daging kelinci. Biasanya kalau bekal untuk kesekolah saya di bawakan bocadillo yaitu roti panjang yang biasanya diisi kentang, keju, dan ayam turki.  Tempat yang saya kunjungi di sana yaitu Granada. Di sana terdapat La Alhambra yang merupakan sejarah peninggalan Islam yang sangat terkenal. Spanyol sangat memberikan inspirasi kepada saya dan cita-cita saya ingin menjelajahi negara dunia lainnya.

Dan Falaah Syahputra mengungkapkan “Mengikuti program pertukaran pelajar ke Philippines merupakan hal terbesar dalam hidup saya. Walau sangat dekat dengan Indonesia namun sangatlah berbeda. Secara fisik orang Indonesia dan Philippines sangatlah mirip dan masih termasuk ke dalam rumpun Melayu. Lebih dari 80% dari penduduknya penganut agama Kristen Katolik. Saya tinggal di Davao, kota teraman di Philippines.  Salah satu makanan kesukaan orang Philippine yaitu green mango with bagoong, mangga hijau yang sangat masam ditambah dengan terasi Philipine yang sangat asin. Sungguh tidak sesuai dengan lidah saya. Makanan di Philippine banyak yang tidak halal. Namun makanan halal yang sudah saya cicipi dan rasanya lezat yaitu ensaymada, manok adobo, lechon manok dan banyak lagi. Hal yang tidak saya suka dari kebiasaan orang Philippine yaitu mereka sangat menganggap mudah janji sehingga suka terlambat. Bila kita berjanji pukul 9 mereka akan datang pukul 12.  Berbagai pelajaran telah saya peroleh dari program ini. Meskipun Philippine dalam bidang perekonomian masih jauh di bawah Indonesia namun mereka dapat menata kota dengan bersih dan mampu menjaga tempat wisata yang sangat membantu untuk mengundang para turis dan membantu pemasukan negara.

Oleh : Ida Rahmadani Siregar, M.Pd.

 

Baca Juga

Sebab-sebab Runtuhnya Peradaban Pendidikan

YPSA.ID – Kegiatan program ULAMA DAN UMARA BERBICARA kali ini bersama narasumber DR. H. Zamakhsyari Hasballah, …