Bagian Kedua
Ditulis Oleh Aminah JF
Dunia Muslim
Dunia Muslim memberikan kontribusi yang sangat kecil kepada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu abad terakhir. Jika kita perhatikan sebab-sebab di balik kurangnya kemajuan ini, maka terlihat jelas masalah ekonomi dan sosial yang dihadapi negara-negara Muslim ini telah menghambat kemajuan mereka, dan beberapa masalah lainnya seperti peperangan, kelaparan, dan kemiskinan semakin memperburuk keadaan tersebut. Sejumlah negara seperti Afghanistan dan Somalia telah terjerat perang saudara selama puluhan tahun dan belakangan ini menjadi sasaran serangan militer Amerika Serikat.
Kebanyakan dari negara-negara Muslim ini pernah dijajah, bahkan ada yang pernah dijajah selama ratusan tahun. Misalnya, Maroko dan Ajazair masing-masing dijajah Prancis selama 40 dan 120 tahun. Setelah memperoleh kemerdekaan dari negara penjajahnya, dunia Muslim ditinggalkan dengan keadaan ekonomi yang sangat lemah, sebagian besar sumber daya mereka dirampas, sehingga para penguasa republik dan kerajaan yang baru terbentuk tersebut terpaksa meminjam uang dari Bank Dunia.
Pada sebagian besar negara Muslim, bunga yang terhitung atas pinjaman ini masih terus dibayar puluhan tahun setelah pinjaman pokoknya lunas. Indonesia misalnya, yang dijajah oleh Belanda dan negara yang oleh Bank Dunia dianggap mengelola utangnya dengan baik, membayar $1,4 miliar per tahun sebagai angsuran pembayaran pokok pinjaman serta tambahan $500.000 per tahun sebagai pembayaran bunga pinjaman. Seharusnya, uang ini dapat dibelanjakan untuk pengembangan teknologi yang akan memajukan negara ini.
Ketika negara penjajah meninggalkan negara-negara Muslim, mereka tidak membiarkan rakyat negara-negara tersebut mengatur negaranya sendiri. Sebaliknya, mereka mengangkat para penguasa yang akan terus mendukung lembaga keuangan dan politik Barat dan yang akan tunduk kepada pemerintah negara Barat. Di Iraq, penjajah Inggris mengangkat Raja Faisal I sebagai penguasa, yang membantu mereka dalam Perang Dunia Pertama dan memimpin pemberontakan terhadap Khilafah Usmaniyah. Sebagai imbalan atas ketundukan mereka, negara-negara Eropa dan Amerika memberikan bantuan keuangan dan militer kepada para penguasa negara-negara Muslim, sehingga sering kali rezim yang brutal tetap berkuasa selama puluhan tahun. Keadaan ini terus berlangsung hingga sekarang: para penguasa negara-negara Muslim tidak memikirkan kepentingan rakyat mereka. Sebaliknya, yang mereka pikirkan adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan atas rakyat mereka dan menjaga kekuasaan ini di lingkungan keluarga atau kelas sosial mereka.
Zaman Keemasan Islam
Jika kita membandingkan keadaan negara-negara Muslim saat ini dengan peradaban Muslim di masa lalu, perbedaan di antara keduanya sangat luar biasa. Pada Masa Keemasan Islam, pada masa Khilafah Abbasiyah, dari abad ke-8 sampai 15 para ilmuwan, ahli geografi, penyair, insinyur, dan filosof memberikan kontribusi besar kepada bidang mereka masing-masing dengan menciptakan berbagai temuan baru dan dengan memelihara serta mengembangkan karya sebelumnya. Kontribusi mereka mempengaruhi secara langsung setiap peradaban penting yang terjadi setelah mereka dan tetap bermanfaat hingga sekarang.
Lembaga-lembaga seperti rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, observatorium astronomi, dan perpustakaan umum, merupakan kemajuan yang dirintis kaum Muslimin; mereka mencapai kemajuan dalam semua bidang penting pada masa itu. Bukannya mengekang para ilmuwan ini, agama Islam justru menjadi penyebab kemajuan yang mereka capai. Di bidang kedokteran, ilmuwan Persia yang dikenal sebagai Ibnu Sina atau Avicenna, menulis buku termasyhur “Dasar-dasar Kedokteran”, yang merupakan buku pelajaran standar yang diajarkan di berbagai universitas di seluruh dunia sampai abad ke-18. Dalam buku ini dia memperkenalkan: sifat menular penyakit infeksi; penggunaan karantina untuk menghambat penyebaran infeksi; keadaan neuropsikiatris seperti epilepsi, stroke, dan demensia; gejala dan komplikasi diabetes dan penggunaan percobaan klinis dalam eksperimen kedokteran. Kemajuan yang dicapai di bidang kedokteran terjadi karena kaum Muslimin mengikuti perintah Allah sebagaimana yang diuraikan dalam Al Qur’an dan Sunnah. Nabi Muhammad Saw berkata dalam haditsnya yang terkenal:
“Tidak ada penyakit yang diciptakan Allah, kecuali Dia juga menciptakan obatnya.” (Sahih Al-Bukhari)
Adanya obat bagi setiap penyakit mendorong kaum Muslimin untuk mencapai kemajuan dalam penelitian biomedis. Di bidang matematika, Muhammad ibnu Musa al-Khawarizmi menciptakan aljabar dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya untuk merumuskan kaidah pewarisan sebagai persamaan linier, yang memungkinkan perhitungan bagian warisan. Astronom Muslim juga menciptakan trigonometri untuk membantu menentukan fase bulan untuk menghitung awal Ramadhan dan Idul Fitri. Al Hassar, seorang ahli matematika dari Al-Maghrib, menyusun lambang notasi matematika modern untuk pecahan, yaitu pembilang dan penyebut dipisahkan oleh sebuah garis mendatar. Banyak ilmuwan Muslim lainnya memberikan kontribusi kepada dan mengembangkan bidang-bidang matematika lainnya seperti kalkulus, geometri, dan teori bilangan. Di bidang teknologi, para insinyur seperti Al-Jazari, yang menciptakan poros engkol – komponen penting pada mesin uap dan mesin pembakaran internal – dan Banu Musa bersaudara, yang menemukan katup dan masker gas, adalah nama-nama terkenal pada Abad Pertengahan. Jam alarm mekanis dan turbin uap ditemukan oleh Taqi al-Din, salah seorang dari polimatematikawan (orang yang pengetahuannya meliputi banyak bidang) Muslim yang jumlahnya terus bertambah. Perintis kimia praktis adalah seorang polimatematikawan abad ke-8 bernama Abu Musa Jabir ibnu Hayyan. Dia menemukan sebagian besar dari proses kimia, yang tetap digunakan di laboratorium sampai sekarang, seperti: penyulingan murni, penyaringan, sublimasi, likuifaksi, kristalisasi, pemurnian, oksidasi, dan penguapan.
Pengetahuan dan jumlah temuan yang berasal dari dunia Muslim pada Masa Keemasan Islam sangat mengagumkan dan mempengaruhi begitu banyak kemajuan teknologi saat ini. Ada beberapa faktor yang mendukung masa kemajuan ini namun sayangnya tidak ada di negeri Muslim pada saat ini. Sebab utama kaum Muslimin mampu meraih kemajuan adalah adanya Khilafah, yaitu negara yang diatur menurut Al Quran dan Sunnah, dan dengan Khilafah umat Islam maupun non-Muslim dilindungi hak-haknya. Khilafah memperhatikan kebutuhan rakyatnya, dan Khalifah menjamin tidak ada rakyat yang tidak memiliki makanan, tempat tinggal, layanan kesehatan, dan pendidikan.
Hudud atau hukuman diberlakukan pada perkara pidana, dan dengan demikian rakyat hidup dengan damai. Tentara Khilafah melindungi rakyat negara Islam dari serangan negara asing dan juga terlibat dalam penaklukan negeri baru yang kemudian diatur dengan Islam, sesuai keinginan rakyat. Baitul Mal atau “Balai Harta” (kementerian keuangan) memungut pajak dari kaum Muslimin dan Non-Muslim dan menjamin uang ini dibelanjakan untuk menyediakan layanan dan lembaga publik, seperti rumah sakit dan universitas, yang menjadi pusat penelitian ilmiah dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang Yahudi, yang hidup di Spanyol pada masa Khilafah Umayyah, juga dapat berkembang karena kebutuhan pokok mereka diperhatikan dan mereka hidup dengan aman. Mereka hidup di lingkungan yang membuat mereka mampu memusatkan perhatian pada pertumbuhan ekonomi dan kebudayaan. Islam juga mendorong kaum Muslimin untuk mencapai keunggulan dalam semua bidang keahlian mereka. Nabi Muhammad Saw berkata:
“Sesungguhnya, Allah memerintahkan keunggulan (ihsan) sehubungan dengan semua hal. Jadi, jika kamu membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik; jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik; karena itu, kamu semua harus menajamkan pisau agar hewan yang disembelih mati dengan tenang.” (Sahih Muslim)
Islam memerintahkan kaum Muslimin menerapkan Ihsan (keunggulan) dalam segala hal yang mereka lakukan. Allah berfirman dalam Al Qur’an:
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى
“Sesungguhnya, Allah memerintahkan keadilan dan ihsan dan memberi bantuan kepada kerabat dan sahabat” (Surah An-Nahl: 90)
Islam juga mendorong kaum Muslimin untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia. Sebenarnya, pembedaan di antara keduanya jarang dilakukan, dengan pengertian bahwa semua ilmu merupakan ilmu Islami jika dicari untuk memperoleh rida Allah. Karena itu, pengetahuan mengenai anatomi jantung dianggap ilmu Islami jika tujuannya adalah beribadah kepada Allah. Dengan demikian, Islam memberikan pedoman yang jelas yang membuat kaum Muslimin mampu berada di garis depan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi namun tetap beriman kepada agama mereka.
Kesimpulan
Sekarang sudah jelas bahwa kemajuan yang dicapai negara-negara Kapitalis adalah karena konsistensi mereka menganut satu ideologi, bukan karena Kapitalisme merupakan ideologi yang benar. Sebaliknya, negara-negara Muslim sekarang tidak menerapkan ajaran Islam yang sempurna, yang berasal dari Pencipta alam semesta, yang telah terbukti membuat mereka hebat di masa lalu. Islam telah membuat kaum Muslimin meraih kemajuan di masa lalu, dan hanya Islam yang insya’Allah akan kembali membawa kaum Muslimin ke zaman keemasannya.
Sumber:
http://www.khilafah.com/why-has-the-muslim-world-made-no-contribution-to-science-and-technology/