YPSA.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh siswa-siswi SMA Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA). Pada ajang The 2026 Japan Design and Invention Expo (JDIE) yang berlangsung di Kansai International Convention Center, Osaka, Jepang, pada 1–7 Juli 2026, dua tim peneliti SMA YPSA berhasil meraih dua medali emas melalui inovasi yang mengangkat tema keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan.
JDIE diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Associations (WIPA) bersama Chizal Corporation dan Indonesian Innovation and Invention Promotion Association (INNOPA).
Medali emas pertama diraih oleh Tim Sugarette Box yang beranggotakan Alvaro Aqhtarza Casyavano, Nazwa Nathasya Santosa, Putri Nuri Habibah, dan Teuku Keant Anada Mustika. Tim ini menghadirkan inovasi Sugarette Box, yaitu kemasan karton biodegradable berbahan dasar puntung rokok daur ulang dan ampas tebu. Inovasi tersebut menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengurangi limbah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Sementara itu, medali emas kedua dipersembahkan oleh Tim Sanseplast yang terdiri atas Nayla Nazhifah Adam Harahap, Ananda Rizky Putra Fandika, Raffa Zahra Ayudina, Rizki Aditya Adha Nasution, dan Talitha Gendis Kesuma. Mereka mengembangkan Sanseplast, plastik antibakteri biodegradable berbahan dasar selulosa lidah mertua (Sansevieria trifasciata) yang dipadukan dengan serbuk daun sirih dan serbuk cangkang telur menggunakan metode solution casting. Inovasi ini menawarkan alternatif plastik ramah lingkungan yang memiliki sifat antibakteri.
Kepala SMA YPSA Dahliana mengatakan, “Keberhasilan meraih dua medali emas pada ajang internasional ini menjadi bukti kualitas riset dan inovasi siswa SMA YPSA yang mampu bersaing di tingkat global. Prestasi tersebut juga mencerminkan komitmen YPSA dalam membina peserta didik agar tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menghasilkan karya inovatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan”.
“Pencapaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berinovasi, mengembangkan penelitian, serta berkontribusi dalam menciptakan solusi atas berbagai tantangan global melalui ilmu pengetahuan dan teknologi”, akhiri Dahliana.
Salah satu siswa Nazwa menuturkan “Disini kami tidak hanya berkompetisi, selama JDIE kami juga mengikuti sesi pameran inovasi, diskusi akademik, serta pertukaran pengalaman dengan delegasi internasional. Hal ini tentu akan bermanfaat bagi kami untuk memperluas jejaring kerja sama dan wawasan global”.
Zulfadli Raz pendamping siswa SMA YPSA mengatakan, “Dalam ajang ini tim SMA YPSA menghadapi peserta dari Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, hingga Kroasia dan Kanada, serta sejumlah negara lain. Siswa-siswi secara langsung mempresentasikan produk di hadapan dewan juri internasional yang terdiri dari akademisi, praktisi, dan pakar inovasi dari berbagai negara”.
Sementara Kepala Departemen Pendidikan dan IT YPSA, Bagoes Maulana, M.Kom., mengatakan bahwa prestasi tersebut menjadi bukti nyata kreativitas serta dedikasi pelajar YPSA dalam menghadirkan solusi inovatif berbasis sains di tingkat internasional.
“Ini juga menjadi wujud ikhtiar kami menjadikan YPSA sebagai sekolah terbaik di Kota Medan, Sumatra Utara, serta menjadi pilihan tepat bagi siswa dan orang tua,” tegas Bagoes.